Sejarah Ahlus Sunnah wal Jamaah

· 0 komentar

Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah golongan besar umat Islam (majority) yang merupakan golongan pengikut Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Keberadaan golongan ini menjadi jelas setelah terjadinya firqah-firqah di dalam umat Islam, tetapi keberadaannya telah diramalkan oleh Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan sejarah, Ahlus Sunnah wal Jamaah dapat dikatakan golongan yang tinggal yakni golongan yang tidak memasuki firqah-firqah baru yang terbentuk.

Peristiwa Tahkim

Pada masa Rasulullah SAW, umat Islam berada dalam satu jamaah karena dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Pada waktu Rasulullah SAW wafat, sempat terjadi perpecahan, tetapi perpecahan tersebut dapat diselesaikan oleh Khalifah Abu Bakar as Siddiq r.a.. Abu Bakar r.a. kemudian memerangi para Nabi palsu dan kaum yang menolak membayar zakat. Kesatuan jamaah tetap bertahan pada masa Umar bin Khattab r.a. yang menjadi masa kegemilangan. Pada masanyalah Islam memasuki Mesir dan masuklahlah kepala pendeta Yahudi di Mesir Abdullah bin Saba’ yang mengharapkan mendapatkan perlakuan istimewa seperti mantan kepala pendeta Yahudi Madinah Abdullah bin Salam. Tetapi sikap khalifah Umar r.a. tidak seperti yang diharapkannya. Demikian pula khalifah Usman bin Affan r.a. yang menggantikannya.

Abdullah bin Saba’ kemudian mendorong terbentuknya oposisi kepada Khalifah Usman bin Affan r.a. yang menyebabkan khalifah Usman bin Affan r.a. mengalami kematian yang menyedihkan. Setelah mengalami kelaparan, sang khalifah pada akhirnya tertikam pada saat menunaikan ibadah shalat. Pada waktu kematian Usman bin Affan r.a. inilah Ali bin Abi Thalib r.a. diangkat menjadi khalifah, sehingga Ali bin Abi Thalib r.a. dituduh terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Tuntutan bela darah Usman bin Affan r.a. kemudian bermunculan. Ummul Mukminin Sayyidatina  Siti Aisyah binti Abu Bakar r.a. bersama Thalhah bin Ubaidillah r.a. dan Zubair bin Awwam r.a. mengangkat senjata sehingga terjadilah Perang Jamal atau Perang Unta. Thalhah bin Ubaidillah tewas terkena lembing beracun Marwan bin Al-Hakam. Zubair bin Awwam r.a. tewas ditikam ketika shalat oleh Amr ibn Jarmuz. Perang Jamal berakhir setelah unta yang dinaiki oleh Sayyidatina Aisyah r.a. tertusuk tombak hingga beliau jatuh terkapar. Saidina Ali r.a. kemudian mengembalikan Sayyidatina Aisyah r.a. ke Madinah.

Peperangan kedua yang dihadapi oleh Saidina Ali r.a. adalah Perang Siffin yang dipimpin oleh Muawiyah bin Abi Sofyan, gubernur Syams yang dibantu Amr bin Ash, gubernur Mesir. Menjelang kekalahannya, pasukan Muawiyah r.a. mengangkat al Qur’an sehingga terjadilah perdamaian yang disebut Tahkim. Dalam peristiwa tersebut, terjadi penipuan, setelah Ali r.a. diturunkan oleh juru bicaranya Abu Musa al Asy’ari r.a., Amr bin Ash r.a. yang menjadi juru bicara Muawiyah r.a. justru menegaskan posisi Muawiyah r.a. sebagai khalifah.

Timbulnya Firqah Khawarij

Keputusan Saidina Ali r.a. menerima usulan tahkim tidak diterima oleh sekelompok pendukungnya. Hal itu menurut mereka menunjukkan bahwa Saidina Ali r.a. ragu atas kebenaran pendirian. Seorang yang ragu tidak berhak menjadi imam, demikian pendapat mereka. Oleh karenanya, mereka memutuskan keluar (khawarij) dari golongan Ali.

Hasil keputusan tahkim yang menguntungkan Muawiyah membuat kaum khawarij tambah marah. Mereka memutuskan untuk membunuh Saidina Ali r.a., Muawiyah r.a dan Amr bin Ash r.a.

Abdurrahman bin Muljam berhasil membunuh Saidina Ali r.a. yang sedang shalat, sementara al Barak yang ditugaskan membunuh Muawiyah r.a. dan Umar bin Bakir yang ditugaskan membunuh Amr bin Ash r.a. gagal.

Amul Jamaah

Setelah kematian Saidina Ali bin Abi Thalib r.a., puteranya Saidina Hasan bin Ali r.a. diangkat kaum muslimin sebagai Khalifah ke-V. Akan tetapi dua bulan setelah pengangkatannya, beliau menyerahkan kedudukannya kepada Muawiyah dengan tujuan tercapainya persatuan umat.

Setelah peristiwa tersebut, Ahlus Sunnah Jamaah mengakui Muawiyah bin Abi Sofyan sebagai Khalifah ke-VI. Tetapi, segolongan kaum menentang keputusan Hasan r.a. tersebut dan menganggap Saidina Husein bin Ali r.a. sebagai Khalifah ke-III.

Timbulnya Firqah Syiah

Dengan demikian, umat Islam terpecah tiga, yakni :

  1. Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mengakui Muawiyah bin Sofyan sebagai Khalifah ke-VI.
  2. Khawarij yang tidak mengakui satu pun khalifah setelah gugurnya kekhalifahan Ali  (menurut mereka) akibat menerima tahkim.
  3. Kaum Syiah yang mengakui Saidina Husein bin Ali r.a. sebagai Khalifah ke-III (mereka hanya mengakui Saidina Ali bin Abi Thalib r.a. sebagai Khalifah ke-I dan Saidina Hasan bin Ali r.a. sebagai Khalifah ke-II).

Kaum Sahabat yang Netral

Ketika terjadi perselisihan antara Saidina Ali r.a. dengan Muawiyah, sebagian sahabat memilih bersikap netral, mereka tidak ikut membaiah Saidina Ali r.a. dan tidak pula menyokong Saidina Muawiyah r.a. Golongan sahabat tersebut, yakni di antaranya :

  1. Sa’ad bin Abi Waqash r.a., salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga, yang doanya paling mustajab.
  2. Abdullah bin Salam r.a., mantan kepala pendeta Yahudi Madinah.
  3. Abdullah bin Umar r.a., putra Umar bin Khattab.
  4. Abi Bakarah r.a.
  5. Imran bin Husein r.a.
  6. Muhammad bin Shalah r.a.
  7. Usman bin Zaid r.a.
  8. Hasan bin Tsabit r.a.

Para sahabat tersebut berpegang pada Hadits Nabi, bahwa apabila terjadi fitnah, yang punya onta kembalilah ke ontanya, yang punya kambing kembalilah ke kambingnya, yang punya tanah kembalilah ke tanahnya, yang tidak punya apa-apa, pecahkanlah pedangnya dengan batu dan carilah jalan lepas kalau mungkin.

Timbulnya Firqah Murjiah

Hasan bin Bilal al Muzni, Abu Salat as Samman (meninggal 152 H), Tsauban, Dirar bin Umar dengan beralasan kepada sikap sahabat yang netral, mengambil sikap terhadap perpecahan masalah siasat dan khalifah. Hanya saja, jika para sahabat hanya sekedar bersikap netral, kelompok ini menjadi kelompok pembenci soal-soal siasat, politik dan khalifah.Yang selanjutnya fatwanya berlanjut bahwa kalau seseorang sudah mengakui ke-Esaan Tuhan dan Nabi Muhammad SAW, maka dosa tidak memberikan mudarat kepadanya bahkan termasuk berperilaku Nasrani sekalipun.

Pengajian Syekh Hasan Basri

Pada suatu ketika terjadilah pengajian oleh Syekh Hasan Basri (meninggal 110 H) di Masjid Basrah. Dalam pengajian tersebut dibahas mengenai dosa besar, bahwa seorang mukmin yang berdosa besar yang meninggal sebelum bertaubat akan dimasukkan ke neraka terlebih dahulu baru kemudian masuk surga.

Salah seorang muridnya, Washil bin Atha’ (wafat 131 H) membantah keras fatwa tersebut. Ia kemudian mengasingkan diri (mu’tazilah) membentuk majlis tersendiri bersama kawannya Umar bin Ubed (meninggal 145 H).

Timbulnya Firqah Muktazilah

Dengan terbentuknya Majlis Washil bin Atha’, terbentuklah firqah baru dalam Islam, yakni Muktazilah.

Timbulnya Firqah Muktazilah Qadariyah

Salah satu teman Washil bin Atha’ yang belajar kepada Syekh Hasan Basri adalah Ma’bad al Juhani. Beliau dihukum mati oleh al Hajaj, penguasa Basrah karena fatwa-fatwanya.

Gailan ad Dimasqi penduduk kota Dimsaq Syria. Bapaknya pernah bekerja pada Khalifah Usman bin Affan. Beliau datang ke Dimsaq pada masa khalifah  Hisyam bin Abdul Muluk (105 – 125 H, Bani Umayah). Seperti al Juhani, beliau juga dihukum mati.

Juhani dan Dimasqi berpendapat bahwa pekerjaan manusia yang baik diciptakan Tuhan, sementara yang buruk dan maksiat orang itu sendirilah yang menciptakan. Fatwa tersebut disebut Qadariyah, dan merupakan majusinya Islam karena ada dua pencipta, yakni Tuhan untuk pekerjaan yang baik dan manusia untuk pekerjaan yang buruk dan maksiat.

H.R. Abu Daud meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah meramalkan keberadaan kaum ini, bahwa majusinya umatnya Islam adalah mereka yang tidak percaya takdir. Kalau kematian jangan diziarahi, kalau sakit jangan dijenguk. Mereka adalah partai dajjal.

Tokoh besar Qadariyah adalah seorang Imam Muktazilah, Ibrahim bin Sayar an Nazham (wafat 211 H) yang memfatwakan :

  1. Ijma sahabat atau ijma imam-imam Mujtahid tidak dapat dijadikan dalil
  2. Quran suci dipandang dari segi susunannya, lafaznya, hurufnya bukanlah mukjizat nabi, tetapi mukjizat al Qur’an karena banyak mengabarkan hal-hal yang gaib

Timbulnya Fatwa Qur’an Makhulk

Pada tahun 124 H, Khalifah Bani Umayah menghukum mati Ja’ad bin Dirham, pelopor fatwa Qur’an itu makhluk dan Allah SWT tidak memiliki sifat, karena fatwanya dianggap sangat ilhad dan zindiq.

Timbulnya Firqah Jabariyah

Salah satu murid Ja’ad bin Dirham adalah Jaham bin Safwan. Berlawanan dengan Qadariyah, Jaham bin Safwan, juru tulis Harits bin Sureih, pemimpin Khurasan yang memberontak terhadap Bani Umayah berfatwa bahwa manusia tidak berdaya, tidak ada ikhtiar dan kasab. Sekalian perbuatan manusia hanyalah majbur (terpaksa) di luar kemauannya, seperti bulu ayam yang diterbangkan angin di udara, atau sepotong kayu yang dihempaskan ombak ke sana ke mari di tengah lautan.

Jaham bin Safwan terbunuh dalam pertempuran dengan tentara khalifah Bani Umayah tahun 131 H. Fahamnya kemudian berpecah menjadi 3 firqah :

  1. Jahmiyah, untuk penerus ajaran Jaham bin Safwan.
  2. Najjariah, untuk pengikut Husein bin Muhammad an Najjar.
  3. Dirariyah, untuk pengikut Dirar bin Umar.

Perkembangan Najjariyah

Pada masa khalifah al Ma’mun bin Harun al Rasyid (198 H – 218 H), hiduplah Abi Abdillah Husein bin Muhammad an Najjar. Pada mulanya beliau berguru kepada Imam Mu’tazilah, Basyar al Marisi, tetapi kemudian juga berpaham Jabariyah dan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dari latar belakang tersebut, beliau mencoba mempersatukan paham-paham tersebut dengan fatwanya sendiri :

  1. Tuhan tidak punya sifat (paham Muktazilah)
  2. Mu’min yang membuat dosa pasti masuk neraka (paham Mu’tazilah), tetapi tidak kekal selama-lamanya (berlawanan dengan Muktazilah).
  3. Tuhan tidak bisa dilihat (paham Muktazilah)

Najjariyah sempat berkembang menjadi tiga aliran, yakni :

  1. Margatsiyah
  2. Za’faraniyah
  3. Mustadrikah

Fitnah Qur’an Makhluk

Muktazilah mencapai kejayaan pada masa khalifah Ma’mun bin Harun al Rasyid, khalifah al Mu’tashim bin Harun al Rasyid dan Khalifah al Watsiq bin al Mu’tashim dalam dinasti Abbasiyah. Selama lebih kurang 300 tahun kejayaannya, timbullah tragedi Fitnah Qur’an Makhluk, yang membunuh ribuan ulama Islam di antaranya Syekh Buwaithi, imam pengganti Imam Syafi’i. Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri mazhab Hanbali mengalami siksaan dan penjara selama 15 tahun.

Pembersihan Muktazilah oleh Khalifah Mutawakkil allallah

Kejayaan Muktazilah berakhir pada masa al Mutawakkil. Tahun 233 H, beliau memerintahkan menangkap Muhammad bin Malik az-Zayyat, menteri al Watsiq yang membunuh Ahmad bin Nashr al Khuzza’i yang dibunuh karena menyeru amar ma’ruf nahi munkar dan menyeru al Qur’an adalah kalamullah. Pada tahun 237 H, Khalifah al Mutawakkil memenjarakan Ahmad bin Abu Duad, hakim Muktazilah. Khalifah Mutawakkil juga memerintahkan seruan pemberhentian propaganda Qur’an makhluk. Khalifah Mutawakkil juga menonjolkan penghormatan kepada Imam Ahmad bin Hanbal dan penjunjungan tinggi Sunnah. Pengangkatan gubernur pada masanya dilakukan setelah bermusyawarah dengan Imam Ahmad bin Hanbal.

Asy’ari dan Maturidi

Dalam pembelaan terhadap Ahlus Sunnah wal Jamaah sangat terkenal Imam Abu Hasan al Asy’ari. Beliau lahir pada masa jaya-jayanya Kaum Muktazilah. Maka pada masa remajanya dia pun ikut ajaran tersebut. Gurunya adalah seorang syekh dari Muktazilah, yakni Syekh Muhammad bin Abdul Wahab al Jabal (wafat 303 H). Tetapi, suatu hari di Masjid Basrah di berpidato, bahwa dia Abu Hasan Ali al Asy’ari anak dari Ismail bin Abi Basyar taubat dari faham Muktazilah, taubat dari pemahaman bahwa Qur’an makhluk, Tuhan Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala di akhirat, manusia menjadikan perbuatannya.

Hasan al Asy’ari kemudian menjadi perumus i’itiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah yang merupakan rangkuman dari pokok-pokok Rukun Iman dan hasil perbandingan dengan firqah-firqah yang sesat. Rumusannya mengenai Ketuhanan menjadi pegangan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang terkenal dengan nama Ajaran Sifat 20.

Ajaran Imam Hasan al Asy’ari kemudian diteruskan oleh :

  1. Imam Abu Bakar al Qaffal (wafat 365 H)
  2. Imam Abu Ishaq al Asfaraini (wafat 411 H)
  3. Imam al Hafizh al Baihaqi (wafat 458 H)
  4. Imam al Haramain al Juwaini (wafat 460 H)
  5. Imam al Qasyim al Qusyairi (wafat 465 H)
  6. Imam al Baqilani (wafat 403 H)
  7. Imam al Ghazali (wafat 505 H)
  8. Imam Fakhruddin ar Razi (wafat 606 H)
  9. Imam Izzuddin bin Abdussalam (wafat 660 H)
  10. Syeikhul Islam Syekh Abdullah as Syarqawi (wafat 1227 H)
  11. Syekh Ibrahim al Bajuri (wafat 1272 H)
  12. Al Allamah Syekh Muhammad Nawawi Bantan (wafat 1315 H)
  13. Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad al Fathani
  14. Syeikh Husein bin Muhammad al Jasar at Thalabisy.

Imam Mansur al Maturidi al Samarqandi al Hanafi bernama lengkap Muhammad bin Muhammad bin Mahmud, lahir di desa Maturid, Samarqand dan meninggal di sana pada tahun 333 H. Beliau berjasa mengumpulkan, memperinci dan mempertahankan iitiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah seperti Imam Hasan al Asy’ari.

Perkembangan Firqah Musyabbihah/Mujassimah

Firqah Musyabbihah/Mujassimah terlahir dari golongan yang disebut Hasyawiyah (percakapan omong kosong). Salah satu tokoh besarnya adalah Abu Abdillah bin Hamid bin Ali al Baghdadi al Warraq (wafat 403 H) pengarang kitab Syarah Ushuluddin. Kitab tersebut banyak mengutarakan tasybih dan tajsim. Pengarang lain adalah :

  1. Qadhi Abu Ja’la Muhammad bin Husein bin Khalaf al Farra’ al Hanbali (wafat 458 H)
  2. Abu Hasan Ali bin Ubaidillah bin Nashar az Zugwani al Hanbali (wafat 527 H)

Tuhan bertempat di atas boleh ditunjuk dengan telunjuk ke atas.

Ada 6 (enam) tokoh yang terkenal dengan fatwanya bahwa Tuhan itu bertempat di atas dan boleh ditunjuk dengan telunjuk ke atas, yakni :

  1. Bayan bin Ismail
  2. Muhammad bin Kiram (wafat 256 H)
  3. Hisyam al Juwaliqi
  4. Yunus bin Abdirrahman
  5. Ali bin Mansur

Tuhan itu laki-laki.

Maadz al Anbari memfatwakan bahwa Tuhan itu laki-laki.

Tuhan memiliki anggota tubuh serupa manusia.

Daud al Jawarabi berfatwa bahwa Tuhan itu mempunyai anggota tubuh seperti manusia.

Neo Hanbali

Banyak pengikut Mutasyabbihah berasal dari mazhab Hanbali, oleh karenanya sebagian kalangan menyebut mereka Neo Hanbali.

Ibnu Taimiyah

Salah seorang tokoh Mutasyabbihah yang terkenal adalah Ibnu Taimiyah. Nama lengkapnya Ahmad Taqiyuddin, Abu Abbas bin Syihabuddin Abdul Mahasin Abdul Halim bin Syekh Majdudin Abil Barakat Abdussalam bin Abi Muhammad Abdillah bin Abi Qasim al Khadar bin Muhammad bin Al Khadar bin Ali bin Abdillah.

Nama keluarga beliau Ibnu Taimiyah karena neneknya Muhammad bin al Khadar naik haji ke Makkah melalui jalan Taima.Kembali dari haji, istrinya melahirkan wanita yang kemudian diberi nama Taimiyah, karena itu keturunannya disebut Bani Taimiyah.

Ibnu Taimiyah lahir di Desa Heran, Palestina tanggal 10 Rabiul Awal 661 H. Desa Heran merupakan desa Kurdi. Dahulunya merupakan daerah Kristen Shabiin yang terkenal ahli filsafat. Ibnu Taimiyah hanya tinggal di desa tersebut sampai berusia 7 tahun, karena lari bersama keluarganya ke Damsyik karena Desa Heran akan diserang oleh Tatari.

Bapaknya merupakan seorang ulama Hanbali, karenanya Ibnu Taimiyah kemudian menjadi orang alim dalam mazhab Hanbali, mengajar dan bertabligh di Masjid Bani Umayah di Damsyik dan memiliki banyak murid.

Berfatwa Tuhan duduk di arasy

Ia kemudian memfatwakan bahwa duduknya Tuhan di atas arasy sama dengan duduknya Ibnu Taimiyah di atas kursinya dan turunnya Tuhan dari langit sama dengan turunnya Ibnu Taimiyah dari mimbarnya dan itu dilihat atas boleh ditunjuk dengan anak jari ke atas.

Dipenjara di Mesir

Tahun 705 H, Ibnu Taimiyah yang berusia 44 tahun dipanggil Sultan Mesir (yang menguasai Syria saat itu). Ia diadili dengan jaksa penuntut, Syekh Zainuddin bin Makhluf, seorang ahli hukum dalam mazhab Hanbali atas tuduhan pengajian sesat. Ibnu Taimiyah menolak diadili karena menurutnya hakim musuh-musuhnya. Ia akhirnya ditahan selama 18 bulan bersama saudaranya Syarafuddin dan Zainuddin.

Menghina pelajaran tasauf

Berkat bantuan keluarga, Ibnu Taimiyah dibebaskan dari penjara. Tetapi sekeluar penjara, ia menghantam pengajian tasauf yang saat itu banyak di Mesir. Ibnu Taimiyah kembali dituntut di mahkamah dengan tuduhan penghinaan tasauf. Ia akhirnya dimasukkan ke penjara kelas satu.

Ulama 4 Mazhab Tukang Bid’ah

Tahun 709 H, Ibnu Taimiyah dibuang ke Iskandariyah oleh Sultan Muzaffar Klaun selama 7 bulan karena memfatwakan bahwa ulama-ulama dari 4 mazhab (Maliki, Syafii, Hanbali, Hanafi) dan ulama-ulama ushuluddin tukang bid’ah.

Meninggal di penjara Damsyik

Tahun 712 H, Ibnu Taimiyah kembali ke Damsyik. Ia kembali mengeluarkan fatwa-fatwanya tentang ushuluddin dan fiqih yang bertentangan dengan 4 mazhab (Hanbali, Hanafi, Syafii, Maliki). Tahun 718 H, Sultan Damsyik melarangnya berfatwa. Pada tanggal 22 Rajab 720 H, ia disidang di pengadilan dan masuk tahanan.Tahun 721 H, ia keluar dari penjara. Tetapi kemudian masuk lagi dan meninggal di penjara benteng Damsyik, 27 Syawal 728 H.

Kemerdekaan Saudi dan Perkembangan Wahabi

Pada abad ke 18 M, Kekhalifahan Turki sedang mengalami kemerosotan. Di Jazirah Arabiyah, tumbuh kerajaan Arab Saudi dengan landasan faham Wahabi yang menyatakan khalifah telah menyimpang dari Al Qur’an dan Sunnah.

Wahabi dinisbatkan kepada Muhammad bin Abdul Wahab yang berasal dari Banu Tamim lahir 1115 H dan wafat 1206 H. Beliau semula adalah penganut mazhab Hanbali, belajar pada Syekh Muhammad Sulaiman al Kurdi, Syekh Abdul Wahab (bapaknya yang menjadi Qadhi Ainiyah) dan Syekh Sulaiman bin Abdul Wahab (abangnya). Tetapi, sejak remaja Muhammad bin Abdul Wahab banyak karya Ibnu Taimiyah dan ulama-ulama tajsim/tasybih.

Pulang Haji ke Dua

Tidak seperti Muhammad Abduh, pengikut Ibnu Taimiyah yang lain yang berulang kali ke Paris tetapi tidak pernah menunaikan ibadah haji, Muhammad bin Abdul Wahab menunaikan ibadah haji ketika Dewas. Kembali ke Ainiyah dan kemudian naik haji lagi.

Setelah kepulangan haji kedua, ia menyatakan bahwa ia banyak melihat ibadat umat Islam di makam Nabi Madinah yang berlainan syariat. Ia kemudian pindah ke Basrah menyiarkan fatwanya tetapi diusir penguasa Basrah. Ia pindah ke Hassa berguru pada Syekh Abdullah bin Abdul Latif. Kemudian pindah ke Huraimalah, desa kecil di Nejd.

Ia ditolong oleh Raja Ainiyah, Usman bin Ahmad bin Ma’mar. Tetapi setelah mendengar fatwa-fatwa Muhammad bin Abdul Wahab, raja Ainiyah mengusir dan mencoba membunuhnya.

Bertemunya Saudi dan Wahabi

Kemudian ia pindah ke Dur’iyah. Raja Dur’iyah, Muhammad bin Saud ternyata cocok dengan fatwa Muhammad bin Abdul Wahab. Saudi butuh ulama sebagai landasan spiritual, Wahabi butuh penguasa untuk menolong penyiaran pahamnya.

Pengikut Wahabi yang terdiri dari orang-orang padang pasir menjadi kekuasaan yang tidak bisa diabaikan oleh Turki dan syarif-syarif Makkah.

Pada suatu musim haji, mereka mengirim delegasi sambil berhaji ke Syarif Mas’ud, syarif Makkah menyampaikan fatwa-fatwa Wahabi. Syarif Mas’ud menangkapi dan membunuh sebagiannya, tetapi sebagian lolos dan melapor ke Raja Saudi. Berkobarlah permusuhan kaum Nejdi dan syarif-syarif Makkah. Kesalahan Syarif Mas’ud adalah menangkapi dan membunuh orang berhaji yang dijamin keamanannya oleh Ali Imran : 97.

Perlawanan dari kerabatnya

Abangnya Syekh Sulaiman bin Abdul Wahab selain mendebat Wahabi, juga mengarang kitab dengan judul Ash Shawaiqul Ilahiyah firraddi alal Wahabiyah (Petir Tuhan untuk menolak paham Wahabi).

Timbulnya Bahaiyah

Pada abad XIX, dari kaum Syiah Imamiyah, timbul Mirza Ali Muhammad (wafat 1853 M) yang mendakwakan dirinya Al Bab.Selain sebagai Imam Mahdi yang ditunggu Syiah, ia juga memfatwakan dirinya sebagai Khalifah dari Musa, Isa dan Muhammad SAW. Menurutnya agama yang tiga semuanya benar, tidak ada Yahudi, Nasrani atau Islam yang ada Dinullah. Ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh Syah Tibriz pada tahun 1853 M. Pengikutnya berserakan ke Istambul, Siprus, Adernah, Aka Palestina.

Mirza Husein Ali Bahaullah (1817 M – 1892 M) di Aka, Palestina mengklaim sebagai wakil Mirza Ali Muhammad. Anaknya, Abdul Baha’ mengembangkan ajaran ini ke Eropa dan Amerika sehingga disebut Bahaiyah.

Timbulnya Ahmadiyah

Mirza Ghulam Ahmad lahir di Qadiyan, Punjab (1836 M) dan meninggal di situ (1908 M). Mirza Ghulam Ahmad lahir dari keluarga Syiah Ismailiyah Pakistan. Pada tahun 1850 M, beliau memfatwakan bahwa beliau adalah Nabi terakhir, Imam Mahdi yang ditunggu, Mujadi dan Juru Selamat. Selain ditentang Ahlus Sunnah wal Jamaah, ulama-ulama Syiah Pakistan, Iran dan Yaman pun menentangnya. Mirza Ghulam Ahmad kemudian menulis buku-buku yang mengejek Syiah, Hasan dan Husein r.a.

Budaya

Ghobro

Sejarah

Facebook

Ghobro Chakay

Buat Lencana Anda

Twitter

About Me

My photo

Ghobro, Indra Hasbi Peranap Indragiri Riau. Lahir di Pauhranap
Indonesia. Memiliki dua orang putera: Hafiz dan Azzam. Kunjungi blog saya.

Site Sponsors

Comments